Sabtu, 26 April 2014

Wanita Gaza Penuh Cinta



Hmm. Alhamdulillah, akhirnya bisa makan mie titi juga. Sekarang saatnya kembali melangkahkan kaki. Kembali mencari arti dibalik kata cinta. Allahu akbar.. allahu akbar. Yup. Adzan sudah berkumandang. Dan Alhamdulillah sekali, mesjid tak jauh dari tempat ku berpijak saat ini. Saatnya sholat dhuhur.
Tak lama usai sholat dhuhur, kusempatkan untuk melantunkan ayat demi ayat lewat mushaf pink mungil kesayanganku. saat membaca alqur’an, sayup-sayup kudengar suara isak tangis seorang wanita. Setelah kuakhiri bacaan qur’anku, akupun kembali mencari dimana asal suara isak tangis itu. Ternyata suara itu berasal tepat dibelakangku. Nampaknya ia adalah seorang muslimah yang sangat taat pada Tuhannya. Parasnya nampak bercahaya. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Balutan jilbab lebarnya yang berwarna ungu nampak sangat anggun dimataku. Dan ia juga berkacamata, sama denganku. Namun sepertinya ia sedang sedih, kelihatan sekali banyak beban dibalik bola matanya yang mengkristal itu. Yaa Allah, ijinkan hamba membantu saudara hamba ini, minimal kehadiranku bisa sedikit menjadi embun penyejuk untuk meringankan segala beban yang nampak sekali tersirat dimataku.
Aku pun mundur ke belakang tepat di sebelah kanan wanita itu. Aku tak ingin menghentikan ataupun memotong kekhusyukannya berdo’a pada Tuhannya. Sekilas berada di sampingnya, jelas sekali terasa ada kesejukan di hati. Dan dari sini, dari posisi yang sangat dekat, akupun bisa melihat paras indahnya lebih jelas lagi. Subhanallah, rupanya dia cantik sekali. Iya. Inner beautynya nampak begitu terpancar. Nampaknya ia selisih usianya tidak begitu jauh denganku. Dan dia sepertinya bukan asli keturunan Indonesia. Bentuk mukanya lancip plus hidungnya yang sedikit mancung. Kulitnya sepertinya ia keturunan arab atau daerah Timur Tengah sana.
Sepertinya ia daritadi menyadari kehadiranku disampingnya yang berupa kesengajaan. Hal ini terbukti karena yang tadinya ia begitu khusyuk berdzikir dan berdo’a namun tak berapa lama kemudian setelah adanya diriku, dia perlahan menghentikan dan mengakhiri do’anya sambil mengusap airmata yang sejak tadi berderai pelan. Ah, sepertinya ia mau staycool dihadapanku, tapi tetap tak bisa membendung kesedihannya, hidungnya saja masih nampak memerah, hehe. Akhirnya kuberanikan diri untuk memulai perbincangan.
Maaf Mbak, kenalkan saya Masyithah. Tapi Mbak cukup memanggil saya dengan Syithah saja. Maaf mbak, karena daritadi saya sudah mencuri pandang melihat ke mbak, tapi saya tidak bermaksud ikut campur Mbak dengan kepentingan ataupun masalah yang Mbak alami. Tapi, jika Mbak tidak keberatan berbagi sedikit dari keadaan Mbak, saya siap Mbak mendengar semuanya. Paling tidak, saya memposisikan diri sebagai saudara Mbak, yah, walaupun kita baru bertemu kali ini, insya Allah saya akan amanah Mbak. Ujarku dengan penuh kehati-hatian.
Mendengar ucapanku tadi, Mbak itu tertegun sejenak sambil menundukkan kepalanya beberapa derajat. Masya Allah, air matanya kembali menggenang di bola matanya. Ya Allah, ini salahku.
Ia pun nampak buru-buru menyeka air matanya. Lalu berkata dengan perlahan, Terima kasih Mbak. Sudah mau menjadi bahu untuk ku bersandar. Saya sangat senang dan sangat menghargai niat baik Mbak. Mbak sudah menghilangkan sedikit prasangka saya tentang orang Indonesia, yang kebanyakan tidak peduli terhadap sesama, yang kebanyakan hanya peduli dengan kepentingannya sendiri. Ternyata Mbak beda dari mereka semua. Nama saya Hafshari Al-Jannah. Mbak cukup memanggil saya Hafshah. Saya sebenarnya bukan warga asli Indonesia, tapi alhamdulillh sekarang sudah resmi menjadi warga Negara Indonesia. Saya sebenarnya asli Palestina. Mbak jangan kaget Ya, hehehe. Mbak pasti heran, kalo saya asli Palestina, kenapa saya begitu fasih berbahasa Indonesia? Iya, karena suami saya asli Indonesia. Kami menikah 5 tahun lalu, jadi kurun waktu segitu cukuplah untuk fasih berbahasa Indonesia karena suami terus menggembleng dan membiasakan.
Hmm, sebenarnya ini bukan masalah yang rumit kok Mbak. Cuman setiap sabtu saya selalu datang berdo’a di masjid ini. Ya, dulu suami saya bekerja sebagai marbot di mesjid ini. Hampir sebagian masanya ketika berkuliah disini, ia habiskan dengan mengurus mesjid ini sambil mengajar mengaji anak-anak disini. Mbak pasti nanya lagi kan? Bagaimana ceritanya saya yang warga asli Palestina bisa menikah dengan warga asli Indonesia?
Iya Mbak, 5 tahun yang lalu saat Palestina dalam keadaan panas-panasnya, saat serangan Israel memborbardir hampir seluruh wilayah Gaza, disitulah kami bertemu. Saat itu, dia sebagai relawan tim medis. Dia yang menolong Ibu saya yang saat itu dalam kondisi kritis akibat terkena peluru jahannam tentara laknatullah itu. Tapi, apa daya, Allah lebih sayang pada Ibuku. Ibu pun berpulang ke rahmatullah. Setelah kejadian itu, dia memutuskan melamar dan menikahiku. Kami pun menikah tepat seminggu setelah kepergian Ibu.
Dua minggu setelah hari pernikahan kami, suamiku pun membawa saya bertolak ke Indonesia untuk pertama kalinya sambil memperkenalkanku pada keluarga suamiku. Kami pun memutuskan untuk menetap di Indonesia sambil menyembuhkanku dari trauma akibat serangan-serangan bengis kaum Israel itu. Tahun demi tahun pun kami lalui dengan sangat bahagia. Walau tanda-tanda kehadiran buah hati tak kunjung ada tapi itu tidak membuat keharmonisan antara kami berdua memudar. Tidak sama sekali. Suamiku begitu sabar menanti tanpa ada beban terlihat sedikitpun. Ia tak pernah lelah berdo’a disetiap sujud sholatnya. Aku pun banyak belajar darinya tentang arti kesabaran. Ia nampak begitu tulus menyayangiku, padahal fisikku sudah tak lagi sempurna seperti gadis lain. Tangan kiri ku sudah diamputasi akibat terkena peluru di Gaza, aku sangat mengaguminya Mbak. Aku sangat mencintainya. Begitu mencintainya. tak terasa, usia perkawinan kami memasuki usia yang ke-5. Seperti biasa, kami melakukan kebiasaan setiap di ultah perkawinan, kami selalu mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa anak yatim untuk bersama-sama merayakan usia perkawinan kami sambil sama-sama berdoa untuk kebahagiaan rumahtangga kami termasuk segera diberi seorang anak. Alhamdulillah, 2 pekan setelahnya, saya pun mulai mengalami tanda-tanda kehamilan. Alhamdulillah, setelah periksakan diri ke dokter tanpa didampingi suami, karena memang niatku ingin memberi  tahu kabar ini sebagai kejutan, dan tanpa berhenti berucap syukur, akhirnya Allah pun mengijabah do’a kami terutama do’a suamiku. Saya hamil. Ya, bayi yang ada dalam kandunganku sudah berusia seminggu. Segera ku kabarkan hal ini pada suamiku.
Setelah tiba di rumah, saya pun bergegas memperlihatkan isi surat hasil lab dari rumah sakit tadi. Begitu suamiku membaca suratku, masya Allah, ia pun spontan sujud syukur sambil menitikkan air mata. ia begitu sangat bahagia. Hari-hari pun berlalu dengan indahnya. Suami pun tak pernah mengeluh meladeni segala permintaan akibat ngidamku Mbak. Hingga sampai disuatu pagi, suamiku berkata bahwa iya punya rencana untuk kembali ke Palestina karena saat itu Palestina sangat membutuhkan tenaga medis karena banyaknya korban yang berjatuhan sementara dokter dan perawat disana begitu minim. Saya pun nampak kaget, tapi niatnya untuk menolong saudara-saudara disana tak bisa kutahan. Saya tak boleh egois, mereka jauh lebih membutuhkan suamiku. Insya Allah, Allah menjaga suamiku disana. Maka kuputuskan untuk melepaskan suamiku untuk berangkat ke Gaza sana.
Sebulan pun terlewatkan sudah. Tak terasa usia kandunganku berusia3 bulan. Pagi itu saya ingin sekali menelpon suamiku, menanyakan kabar dirinya dan juga tak lupa, kabar saudara-saudaraku di Palestina. Namun, beberapa kali kuhubungi, hp suamiku tak kunjung aktif. Tidak biasanya ia seperti ini. Tapi saya tetap bersuudzon, mungkin saja saat ini iya tengah sibuk merawat pasien disana. Belum sampai 5 menit, ada panggilan masuk di hp ku,  dan ternyata panggilan itu datang dari Palestina. Ya. Tak lain adalah tentang suamiku. Innalillah… saya pun tak bisa menguasai diri apalagi ditengah kondisi kehamilanku yang tidak stabil, aku pun ambruk.
Tak lama kemudian saya pun sadar diri, ternyata teriakan innalillahku tadi membuat kaget beberapa tetangga rumah dan mereka pun membawa ku ke rumah sakit. Suamiku, ternyata Allah lagi-lagi mengambil orang yang sangat menyayangiku. Suamiku wafat tadi subuh, tepat saat ia menuju mesjid al aqsho. Tapi ditengah perjalanan, ia terkena serangan peluru dari udara Palestina. Dan akhirnya suamiku pun wafat bersama teman-temannya.
Saya sangat sedih skali, terlebih karena tak bisa melihat suamiku lagi. Kuputuskan ia dimakamkan disana karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dibawa kesini dan juga biaya yang begitu mahal. Ternyata kesedihanku berdampak pada janinku. Saya pun mengalami keguguran. Saat itu adalah waktu yang membuatku begitu terpukul. Kesedihan nampak dalam. Hari-hari kulalui menjadi tidak semangat. Tapi Alhamdulillah, ibu mertua begitu baik padaku, bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya sekarang tanpa jasa beliau.
Begitulah kisahku Mbak. Terlalu panjang ya? Hehe.. tapi saya senang Mbak, karena saya telah mengantarkan suamiku menjadi seorang syahid, sejak kejadian itu, setiap sabtu saya selalu berkunjung ke mesjid ini untuk mengenang masa-masa suamiku dan masa kami bersama yang setiap pekan mengajar adik-adik TPA disini. Tuh, mereka sudah pada datang Mbak.
Masya Allah. Allahu akbar. Lagi. Bertemu dengan sosok wanita luar biasa. Ia telah membuka tabir dibalik tanyaku diperjalanan ini tentang arti dibalik kata cinta. Yaa Allah, terima kasih engkau telah mempertemukan hamba dengan hamba-Mu yang luar biasa ini. Mbak Hafshah, Ah, kau membuat mataku kembali mengembun dan hidungku kembali sembab. Selamat menjalani kehidupan penuh kemuliaan Mbak. Kelak, Mbak dan suami akan bertemu kembali di Jannah-Nya.  Aku pun berpisah dngannya dngan penuh haru. Diam-diam aku berbisik dalam hati, Mbak aku memberimu gelar Wanita Gaza Penuh Cinta.

Masyithah Utrujjah Dwi Natsir
26 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar