Hmm.
Alhamdulillah, akhirnya bisa makan mie titi juga. Sekarang saatnya kembali
melangkahkan kaki. Kembali mencari arti dibalik kata cinta. Allahu akbar..
allahu akbar. Yup. Adzan sudah berkumandang. Dan Alhamdulillah sekali, mesjid
tak jauh dari tempat ku berpijak saat ini. Saatnya sholat dhuhur.
Tak lama usai
sholat dhuhur, kusempatkan untuk melantunkan ayat demi ayat lewat mushaf pink mungil kesayanganku. saat membaca
alqur’an, sayup-sayup kudengar suara isak tangis seorang wanita. Setelah
kuakhiri bacaan qur’anku, akupun kembali mencari dimana asal suara isak tangis
itu. Ternyata suara itu berasal tepat dibelakangku. Nampaknya ia adalah seorang
muslimah yang sangat taat pada Tuhannya. Parasnya nampak bercahaya. Mulutnya
tak berhenti berdzikir. Balutan jilbab lebarnya yang berwarna ungu nampak
sangat anggun dimataku. Dan ia juga berkacamata, sama denganku. Namun
sepertinya ia sedang sedih, kelihatan sekali banyak beban dibalik bola matanya
yang mengkristal itu. Yaa Allah, ijinkan hamba membantu saudara hamba ini,
minimal kehadiranku bisa sedikit menjadi embun penyejuk untuk meringankan
segala beban yang nampak sekali tersirat dimataku.
Aku pun mundur
ke belakang tepat di sebelah kanan wanita itu. Aku tak ingin menghentikan
ataupun memotong kekhusyukannya berdo’a pada Tuhannya. Sekilas berada di
sampingnya, jelas sekali terasa ada kesejukan di hati. Dan dari sini, dari
posisi yang sangat dekat, akupun bisa melihat paras indahnya lebih jelas lagi.
Subhanallah, rupanya dia cantik sekali. Iya. Inner beautynya nampak begitu
terpancar. Nampaknya ia selisih usianya tidak begitu jauh denganku. Dan dia
sepertinya bukan asli keturunan Indonesia. Bentuk mukanya lancip plus hidungnya
yang sedikit mancung. Kulitnya sepertinya ia keturunan arab atau daerah Timur
Tengah sana.
Sepertinya ia
daritadi menyadari kehadiranku disampingnya yang berupa kesengajaan. Hal ini
terbukti karena yang tadinya ia begitu khusyuk berdzikir dan berdo’a namun tak
berapa lama kemudian setelah adanya diriku, dia perlahan menghentikan dan
mengakhiri do’anya sambil mengusap airmata yang sejak tadi berderai pelan. Ah,
sepertinya ia mau staycool dihadapanku, tapi tetap tak bisa membendung
kesedihannya, hidungnya saja masih nampak memerah, hehe. Akhirnya kuberanikan
diri untuk memulai perbincangan.
Maaf Mbak,
kenalkan saya Masyithah. Tapi Mbak cukup memanggil saya dengan Syithah saja.
Maaf mbak, karena daritadi saya sudah mencuri pandang melihat ke mbak, tapi
saya tidak bermaksud ikut campur Mbak dengan kepentingan ataupun masalah yang
Mbak alami. Tapi, jika Mbak tidak keberatan berbagi sedikit dari keadaan Mbak,
saya siap Mbak mendengar semuanya. Paling tidak, saya memposisikan diri sebagai
saudara Mbak, yah, walaupun kita baru bertemu kali ini, insya Allah saya akan
amanah Mbak. Ujarku dengan penuh kehati-hatian.
Mendengar
ucapanku tadi, Mbak itu tertegun sejenak sambil menundukkan kepalanya beberapa
derajat. Masya Allah, air matanya kembali menggenang di bola matanya. Ya Allah,
ini salahku.
Ia pun nampak
buru-buru menyeka air matanya. Lalu berkata dengan perlahan, Terima kasih Mbak.
Sudah mau menjadi bahu untuk ku bersandar. Saya sangat senang dan sangat
menghargai niat baik Mbak. Mbak sudah menghilangkan sedikit prasangka saya
tentang orang Indonesia, yang kebanyakan tidak peduli terhadap sesama, yang
kebanyakan hanya peduli dengan kepentingannya sendiri. Ternyata Mbak beda dari
mereka semua. Nama saya Hafshari Al-Jannah. Mbak cukup memanggil saya Hafshah. Saya
sebenarnya bukan warga asli Indonesia, tapi alhamdulillh sekarang sudah resmi
menjadi warga Negara Indonesia. Saya sebenarnya asli Palestina. Mbak jangan
kaget Ya, hehehe. Mbak pasti heran, kalo saya asli Palestina, kenapa saya
begitu fasih berbahasa Indonesia? Iya, karena suami saya asli Indonesia. Kami
menikah 5 tahun lalu, jadi kurun waktu segitu cukuplah untuk fasih berbahasa
Indonesia karena suami terus menggembleng dan membiasakan.
Hmm, sebenarnya
ini bukan masalah yang rumit kok Mbak. Cuman setiap sabtu saya selalu datang
berdo’a di masjid ini. Ya, dulu suami saya bekerja sebagai marbot di mesjid
ini. Hampir sebagian masanya ketika berkuliah disini, ia habiskan dengan
mengurus mesjid ini sambil mengajar mengaji anak-anak disini. Mbak pasti nanya
lagi kan? Bagaimana ceritanya saya yang warga asli Palestina bisa menikah
dengan warga asli Indonesia?
Iya Mbak, 5
tahun yang lalu saat Palestina dalam keadaan panas-panasnya, saat serangan
Israel memborbardir hampir seluruh wilayah Gaza, disitulah kami bertemu. Saat
itu, dia sebagai relawan tim medis. Dia yang menolong Ibu saya yang saat itu
dalam kondisi kritis akibat terkena peluru jahannam tentara laknatullah itu.
Tapi, apa daya, Allah lebih sayang pada Ibuku. Ibu pun berpulang ke
rahmatullah. Setelah kejadian itu, dia memutuskan melamar dan menikahiku. Kami
pun menikah tepat seminggu setelah kepergian Ibu.
Dua minggu
setelah hari pernikahan kami, suamiku pun membawa saya bertolak ke Indonesia
untuk pertama kalinya sambil memperkenalkanku pada keluarga suamiku. Kami pun
memutuskan untuk menetap di Indonesia sambil menyembuhkanku dari trauma akibat
serangan-serangan bengis kaum Israel itu. Tahun demi tahun pun kami lalui
dengan sangat bahagia. Walau tanda-tanda kehadiran buah hati tak kunjung ada
tapi itu tidak membuat keharmonisan antara kami berdua memudar. Tidak sama
sekali. Suamiku begitu sabar menanti tanpa ada beban terlihat sedikitpun. Ia
tak pernah lelah berdo’a disetiap sujud sholatnya. Aku pun banyak belajar
darinya tentang arti kesabaran. Ia nampak begitu tulus menyayangiku, padahal
fisikku sudah tak lagi sempurna seperti gadis lain. Tangan kiri ku sudah
diamputasi akibat terkena peluru di Gaza, aku sangat mengaguminya Mbak. Aku
sangat mencintainya. Begitu mencintainya. tak terasa, usia perkawinan kami
memasuki usia yang ke-5. Seperti biasa, kami melakukan kebiasaan setiap di
ultah perkawinan, kami selalu mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa
anak yatim untuk bersama-sama merayakan usia perkawinan kami sambil sama-sama
berdoa untuk kebahagiaan rumahtangga kami termasuk segera diberi seorang anak.
Alhamdulillah, 2 pekan setelahnya, saya pun mulai mengalami tanda-tanda
kehamilan. Alhamdulillah, setelah periksakan diri ke dokter tanpa didampingi
suami, karena memang niatku ingin memberi
tahu kabar ini sebagai kejutan, dan tanpa berhenti berucap syukur,
akhirnya Allah pun mengijabah do’a kami terutama do’a suamiku. Saya hamil. Ya,
bayi yang ada dalam kandunganku sudah berusia seminggu. Segera ku kabarkan hal
ini pada suamiku.
Setelah tiba di
rumah, saya pun bergegas memperlihatkan isi surat hasil lab dari rumah sakit
tadi. Begitu suamiku membaca suratku, masya Allah, ia pun spontan sujud syukur
sambil menitikkan air mata. ia begitu sangat bahagia. Hari-hari pun berlalu
dengan indahnya. Suami pun tak pernah mengeluh meladeni segala permintaan
akibat ngidamku Mbak. Hingga sampai disuatu pagi, suamiku berkata bahwa iya
punya rencana untuk kembali ke Palestina karena saat itu Palestina sangat
membutuhkan tenaga medis karena banyaknya korban yang berjatuhan sementara
dokter dan perawat disana begitu minim. Saya pun nampak kaget, tapi niatnya
untuk menolong saudara-saudara disana tak bisa kutahan. Saya tak boleh egois,
mereka jauh lebih membutuhkan suamiku. Insya Allah, Allah menjaga suamiku
disana. Maka kuputuskan untuk melepaskan suamiku untuk berangkat ke Gaza sana.
Sebulan pun
terlewatkan sudah. Tak terasa usia kandunganku berusia3 bulan. Pagi itu saya
ingin sekali menelpon suamiku, menanyakan kabar dirinya dan juga tak lupa,
kabar saudara-saudaraku di Palestina. Namun, beberapa kali kuhubungi, hp
suamiku tak kunjung aktif. Tidak biasanya ia seperti ini. Tapi saya tetap
bersuudzon, mungkin saja saat ini iya tengah sibuk merawat pasien disana. Belum
sampai 5 menit, ada panggilan masuk di hp ku,
dan ternyata panggilan itu datang dari Palestina. Ya. Tak lain adalah
tentang suamiku. Innalillah… saya pun tak bisa menguasai diri apalagi ditengah
kondisi kehamilanku yang tidak stabil, aku pun ambruk.
Tak lama
kemudian saya pun sadar diri, ternyata teriakan innalillahku tadi membuat kaget
beberapa tetangga rumah dan mereka pun membawa ku ke rumah sakit. Suamiku,
ternyata Allah lagi-lagi mengambil orang yang sangat menyayangiku. Suamiku
wafat tadi subuh, tepat saat ia menuju mesjid al aqsho. Tapi ditengah perjalanan,
ia terkena serangan peluru dari udara Palestina. Dan akhirnya suamiku pun wafat
bersama teman-temannya.
Saya sangat
sedih skali, terlebih karena tak bisa melihat suamiku lagi. Kuputuskan ia
dimakamkan disana karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dibawa kesini
dan juga biaya yang begitu mahal. Ternyata kesedihanku berdampak pada janinku.
Saya pun mengalami keguguran. Saat itu adalah
waktu yang membuatku begitu terpukul. Kesedihan nampak dalam. Hari-hari kulalui
menjadi tidak semangat. Tapi Alhamdulillah, ibu mertua begitu baik padaku, bisa
dibayangkan bagaimana kondisi saya sekarang tanpa jasa beliau.
Begitulah
kisahku Mbak. Terlalu panjang ya? Hehe.. tapi saya senang Mbak, karena saya
telah mengantarkan suamiku menjadi seorang syahid, sejak kejadian itu, setiap
sabtu saya selalu berkunjung ke mesjid ini untuk mengenang masa-masa suamiku
dan masa kami bersama yang setiap pekan mengajar adik-adik TPA disini. Tuh,
mereka sudah pada datang Mbak.
Masya Allah.
Allahu akbar. Lagi. Bertemu dengan sosok wanita luar biasa. Ia telah membuka tabir dibalik tanyaku diperjalanan ini tentang arti dibalik kata cinta. Yaa
Allah, terima kasih engkau telah mempertemukan hamba dengan hamba-Mu yang luar
biasa ini. Mbak Hafshah, Ah, kau membuat mataku kembali mengembun dan hidungku
kembali sembab. Selamat menjalani kehidupan penuh kemuliaan Mbak. Kelak, Mbak
dan suami akan bertemu kembali di Jannah-Nya.
Aku pun berpisah dngannya dngan penuh haru. Diam-diam aku berbisik dalam
hati, Mbak aku memberimu gelar Wanita Gaza Penuh Cinta.
Masyithah Utrujjah Dwi Natsir
26 April 2014
Masyithah Utrujjah Dwi Natsir
26 April 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar