Selasa, 18 Februari 2014

Menjadi Ahli Syurga, Sampai Dimana Persiapanmu?




Terangkanlah..
Terangkanlah..
Langkah yang berkabut, wajah penuh dosa..
Bila masa tlah tiada..
Kereta kencana datang tiba-tiba..
Air mata, dalam duka..
Tak merubah, ceritanya..
hanya hening, dan berjuta tanya..
dalam desah, dalam pasrah..
*Opick : Khusnul Khatimah

Mendengar lagu dari Kang Opick, seakan memflashback kembali tentang seberapa banyak amal kebaikan yang telah kita tanam dan seberapa pula dosa yang telah kita perbuat?
Ah, saya sendiri dibuat gagu dengan pertanyaan itu, mungkin karena saking banyaknya atau hanya sedikit? Saya yakin, hanya kita yang bisa menjawab pertanyaan kita sendiri.

Coba hitung sekarang, tapi hitungnya pake jari tangan kita, berapakah usia kita saat ini?
Lagi-lagi saya yakin kalau usia teman-teman  disini sudah tidak cukup jika harus menghitung dengan jari yang hanya berjumlah sepuluh saking banyaknya. Iya kan?
Nah, seberapa banyak kah amal kebaikan yang telah kita tunaikan? Sebandingkah dengan banyaknya jumlah usia yang barusan kita hitung tadi?
Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat. Tanamlah kebaikan-kebaikan selagi kita masih di dunia. Persembahkanlah yang terbaik untuk dunia dan akhiratmu. Mumpung, kesehatan, kesempatan dan kesuksesan masih berpihak padamu. Maka, pakailah sebaik mungkin nikmat luar biasa itu. Disia-siakan??? Oh, jangan sampai yah J

Sekarang kita melangkah ke yang pahit-pahit. Yang gak enak-gak enak. Yang suram-suram. Kalau soal ini, hampir setiap kita pernah mengalami. Entah itu yang hanya tersandung, terjebak bahkan sampai terperosok.  Itu masa lalu, harus dilupakan atau paling tidak diambil hikmahnya saja. Ok. Sampai disitu saya sepakat. Tapi, cukupkah kita melupakan dan mengambil hikmahnya saja? Hanya sesederhana itu? Untuk kali ini, saya harus mengatakan TIDAK !!!

Kesalahan adalah sumber pembelajaran. Dari kesalahan kita bisa belajar tentang kekurangan kita, tentang kebodohan yang dilakukan tanpa disadari dan tentang ketidakmampuan kita menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Bahkan mungkin saja, ada diantara kita bahkan bisa jadi saya sendiri mengulangi sebuah kesalahan yang sama.  Disinilah waktunya kita belajar, tentang kesalahan masa lalu kita. Ia akan menjadi berharga suatu saat nanti.

Saya akan ajak teman-teman untuk sekali lagi merenung. Untuk masuk ke ruang khayal. Dan saya minta untuk mengambil dua buah keranjang yang ukurannya sama besar. Nah, untuk pertama kalinya saya akan mengajak bermuhasabah, instrospeksi, tentang seberapa banyak kebaikan yang telah kita tanam dan kesalahan yang telah kita perbuat. Kita bayangkan setiap kebaikan itu adalah bola berwarna putih dan kesalahan itu adalah bola berwarna merah. Lalu, masukkan masing-masing bola merah dan putih itu ke dalam dua buah keranjang tadi secara terpisah.
Sekarang bandingkan, kira-kira keranjang mana yang lebih berat? Keranjang mana yang lebih banyak bolanya? Sekali lagi, hanya diri kitalah yang bisa menjawab dengan objektif.

Seringan inikah keranjang bola putihku?
Seberat inikah keranjang bola merahku?
Yaa Allah, jika saat ini adalah jadwal giliranku kembali pada-Mu, dapatkah Kau memberiku sedikit waktu lagi untuk memenuhi keranjang putihku? Untuk mengurangi berat keranjang merahku?
Aku janji Yaa Allah, tak akan lelah berbuat kebaikan, tak akan sedetikpun lalai dari-Mu dan akan meninggalkan semua larangan-Mu.

Bayangkan teman-teman, jika itu menimpa pada diri kita. Kemanakah kita akan pergi? Semua sudah terlambat. Waktumu telah habis. Time’s over. You Lose.
Naudzubillahimindzaliq…

Lakukanlah yang terbaik untuk hidup dan matimu semaksimal mungkin.
Menghindarlah dari lubang dosa dan kesalahan selihai mungkin.
Hingga suatu saat nanti, jika ada yang bertanya seperti ini padamu,
Menjadi ahli syurga, sampai dimana persiapanmu?
Maka dengan penuh optimis teman-teman akan menjawab serempak, Insya Allah, selama nafas masih berhembus, maka ladang kebaikan kami akan terus tumbuh subur.

Yaa Allah matikanlah kami dalam keadaan khusnul khatimah, Aamiin !!

Senin, 17 Februari 2014

Jika Hanya Sebentar, Kenapa Bilang Selamanya?



 

















Jika hanya sebentar
Kenapa berlama-lama?
Kenapa memberi harapan?

Jika hanya sebentar
Kenapa harus singgah?
Kenapa tidak pamit?

Jika hanya sebentar
Kenapa melempar senyum?
Kenapa memberi salam?

Jika hanya sebentar
Kenapa mesti masuk?
Mestinya di teras saja !

Jika hanya sebentar
Mestinya lambaikan tangan !
Mestinya haturkan maaf !

Jika hanya sebentar
kenapa bilang selamanya?




SEBUAH CATATAN TENTANG LOKASI KKN UNHAS GEL.82 DI KEL. OMPO



Inilah yang dapat kita rasakan sesaat setelah mengunjungi salah satu Kelurahan yang berada di dalam lingkup Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Luas wilayahnya yang mencapai 23 kilometer persegi ini merupakan salah satu dari tiga kelurahan utama penghasil padi dengan produksi masing-masing sebanyak 15.039 ton. Wilayah kelurahan ompo ini memiliki  lima Dusun yaitu Dusun Ompo, Lesu, Madello, Lawo dan Tinco dengan  jumlah penduduk sebanyak 3013 jiwa. Masyarakat yang mayoritas beragama islam tersebut sebagian besar berprofesi sebagai petani sesuai dengan potensi alam daerah tersebut.   
Kelurahan ini tidak jauh dari kota Kabupaten, sehingga masyarakat hampir tidak pernah mendapatkan kesulitan dalam melakukan beberapa aktivitas sehari-hari seperti ke sekolah, berbelanja ke pasar, mendatangi kantor-kantor dinas, hingga melakukan akses internet. Bukan hanya itu saja, ada salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Kelurahan ini yaitu memiliki objek wisata alam yang bernama Permandian Alam Ompo yang berasal langsung dari mata air di Kelurahan tersebut. Hampir setiap hari, lokasi ini kerap dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai asal daerah, bahkan setiap sore, sesaat setelah waktu ashar, sekelompok pemuda menjadikan lokasi tersebut sebagai arena sirkuit, hal ini tidak dipermasalahkan oleh warga sekitar karena dianggap tidak mengganggu aktivitas mereka. Ada sebuah cerita mistis yang sebagian besar dipercaya oleh penduduk setempat yaitu adanya makhluk halus menyerupai seorang wanita yang terkadang muncul di dekat kolam renang yang mengajak pengunjung wisata pria berenang bersamanya hingga masuk ke dalam air sehingga ia pun tewas seketika.
 Masyarakat Kelurahan ini memiliki sifat kepedulian yang tinggi, hal ini terbukti pada saat ada anggota masyarakat yang akan menyelenggarakan sebuah hajatan, maka tanpa disuruh para tetangganya langsung datang mendatangi kediamannya tersebut untuk ikut serta membantu. Tidak hanya itu saja, jika ada anggota masyarakat yang sakit, maka hampir seluruh tetangga sekitar secara refleks datang menjenguk. Begitu juga respon masyarakat kepada sekelompok tamu dari luar daerah yang juga tidak kalah pedulinya, hal ini terlihat pada saat menghadapi kelompok kuliah kerja nyata dalam hal ini adalah kami yang datang mendiami Kelurahan ini. Mereka dengan senang hati menawarkan bantuan tanpa meminta, bahkan hampir setiap pekan selalu ada masyarakat yang mengundang makan siang di rumahnya.
Ada salah satu Dusun yang cukup menarik perhatian yang tempatnya cukup terpencil yaitu Dusun Tinco. Namun, tidak seperti daerah terpencil lainnya, Dusun Tinco ini sangat pesat perkembangannya, hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya siswa yang setelah tamat SMA dengan gigih serta semangatnya melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi hingga berhasil meraih cita-citanya walau dalam kondisi ekonomi yang memprihatinkan. Bukan hanya itu saja, hampir sebagian besar pelajar Kabupaten Soppeng yang berprestasi berasal dari Dusun tersebut.
Kondisi lingkungan Kelurahan yang sangat subur ini terlihat tidak maksimal dalam hal pengelolaanya, misalnya saja menanam sayur dan buah-buahan seperti kangkung, daun kelor, cabe merah, tomat, terung, kacang-kacangan dan lain-lain. Mereka sebenarnya bisa melakukan penanaman tersebut di pekarangan rumah masing-masing yang rata-rata berukuran luas akan tetapi kesempatan ini kurang dioptimalkan, dalam hal ini kelompok kami sudah memberikan masukan kepada mereka supaya lebih mengoptimalkan potensi lingkungan tersebut.
Berdasarkan survei yang telah saya lakukan terhadap berbagai masalah di Kelurahan, ada suatu masalah yang cukup memprihatinkan yaitu masalah membuang air besar khususnya di Dusun Lesu, Ompo, dan Lawo, ternyata cukup banyak keluarga yang belum memiliki jamban keluarga khususnya masyarakat yang kondisi ekonominya kurang mampu. Mereka biasanya membuang air besar di alam terbuka pada malam atau pagi hari. Persentase yang tidak memiliki jamban tersebut sekitar 25%.
Demikianlah hal-hal yang bisa saya gambarkan mengenai kondisi warga dan lingkungan Kelurahan Ompo, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Mudah-mudahan apa yang telah saya gambarkan tadi dapat bermanfaat bagi para pembaca dan terutama untuk diri saya sendiri.