Selasa, 29 April 2014

Mengapa Belanda Lebih Memilih Kartini, Bukan Cut Nyak Dien Atau Dewi Sartika?


Mengapa harus Kartini? Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).
Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.
Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia? 
Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.
Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.
Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.
Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiran-pikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.
Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? — Apa karena Cut Nyak dibenci penjajah?— Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.
Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.
Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia…, mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong takdir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

*Tiar Anwar Bachtiar  Peneliti INSISTS dan Kandidat Doktor Sejarah, Universitas Indonesia

Sabtu, 26 April 2014

Wanita Gaza Penuh Cinta



Hmm. Alhamdulillah, akhirnya bisa makan mie titi juga. Sekarang saatnya kembali melangkahkan kaki. Kembali mencari arti dibalik kata cinta. Allahu akbar.. allahu akbar. Yup. Adzan sudah berkumandang. Dan Alhamdulillah sekali, mesjid tak jauh dari tempat ku berpijak saat ini. Saatnya sholat dhuhur.
Tak lama usai sholat dhuhur, kusempatkan untuk melantunkan ayat demi ayat lewat mushaf pink mungil kesayanganku. saat membaca alqur’an, sayup-sayup kudengar suara isak tangis seorang wanita. Setelah kuakhiri bacaan qur’anku, akupun kembali mencari dimana asal suara isak tangis itu. Ternyata suara itu berasal tepat dibelakangku. Nampaknya ia adalah seorang muslimah yang sangat taat pada Tuhannya. Parasnya nampak bercahaya. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Balutan jilbab lebarnya yang berwarna ungu nampak sangat anggun dimataku. Dan ia juga berkacamata, sama denganku. Namun sepertinya ia sedang sedih, kelihatan sekali banyak beban dibalik bola matanya yang mengkristal itu. Yaa Allah, ijinkan hamba membantu saudara hamba ini, minimal kehadiranku bisa sedikit menjadi embun penyejuk untuk meringankan segala beban yang nampak sekali tersirat dimataku.
Aku pun mundur ke belakang tepat di sebelah kanan wanita itu. Aku tak ingin menghentikan ataupun memotong kekhusyukannya berdo’a pada Tuhannya. Sekilas berada di sampingnya, jelas sekali terasa ada kesejukan di hati. Dan dari sini, dari posisi yang sangat dekat, akupun bisa melihat paras indahnya lebih jelas lagi. Subhanallah, rupanya dia cantik sekali. Iya. Inner beautynya nampak begitu terpancar. Nampaknya ia selisih usianya tidak begitu jauh denganku. Dan dia sepertinya bukan asli keturunan Indonesia. Bentuk mukanya lancip plus hidungnya yang sedikit mancung. Kulitnya sepertinya ia keturunan arab atau daerah Timur Tengah sana.
Sepertinya ia daritadi menyadari kehadiranku disampingnya yang berupa kesengajaan. Hal ini terbukti karena yang tadinya ia begitu khusyuk berdzikir dan berdo’a namun tak berapa lama kemudian setelah adanya diriku, dia perlahan menghentikan dan mengakhiri do’anya sambil mengusap airmata yang sejak tadi berderai pelan. Ah, sepertinya ia mau staycool dihadapanku, tapi tetap tak bisa membendung kesedihannya, hidungnya saja masih nampak memerah, hehe. Akhirnya kuberanikan diri untuk memulai perbincangan.
Maaf Mbak, kenalkan saya Masyithah. Tapi Mbak cukup memanggil saya dengan Syithah saja. Maaf mbak, karena daritadi saya sudah mencuri pandang melihat ke mbak, tapi saya tidak bermaksud ikut campur Mbak dengan kepentingan ataupun masalah yang Mbak alami. Tapi, jika Mbak tidak keberatan berbagi sedikit dari keadaan Mbak, saya siap Mbak mendengar semuanya. Paling tidak, saya memposisikan diri sebagai saudara Mbak, yah, walaupun kita baru bertemu kali ini, insya Allah saya akan amanah Mbak. Ujarku dengan penuh kehati-hatian.
Mendengar ucapanku tadi, Mbak itu tertegun sejenak sambil menundukkan kepalanya beberapa derajat. Masya Allah, air matanya kembali menggenang di bola matanya. Ya Allah, ini salahku.
Ia pun nampak buru-buru menyeka air matanya. Lalu berkata dengan perlahan, Terima kasih Mbak. Sudah mau menjadi bahu untuk ku bersandar. Saya sangat senang dan sangat menghargai niat baik Mbak. Mbak sudah menghilangkan sedikit prasangka saya tentang orang Indonesia, yang kebanyakan tidak peduli terhadap sesama, yang kebanyakan hanya peduli dengan kepentingannya sendiri. Ternyata Mbak beda dari mereka semua. Nama saya Hafshari Al-Jannah. Mbak cukup memanggil saya Hafshah. Saya sebenarnya bukan warga asli Indonesia, tapi alhamdulillh sekarang sudah resmi menjadi warga Negara Indonesia. Saya sebenarnya asli Palestina. Mbak jangan kaget Ya, hehehe. Mbak pasti heran, kalo saya asli Palestina, kenapa saya begitu fasih berbahasa Indonesia? Iya, karena suami saya asli Indonesia. Kami menikah 5 tahun lalu, jadi kurun waktu segitu cukuplah untuk fasih berbahasa Indonesia karena suami terus menggembleng dan membiasakan.
Hmm, sebenarnya ini bukan masalah yang rumit kok Mbak. Cuman setiap sabtu saya selalu datang berdo’a di masjid ini. Ya, dulu suami saya bekerja sebagai marbot di mesjid ini. Hampir sebagian masanya ketika berkuliah disini, ia habiskan dengan mengurus mesjid ini sambil mengajar mengaji anak-anak disini. Mbak pasti nanya lagi kan? Bagaimana ceritanya saya yang warga asli Palestina bisa menikah dengan warga asli Indonesia?
Iya Mbak, 5 tahun yang lalu saat Palestina dalam keadaan panas-panasnya, saat serangan Israel memborbardir hampir seluruh wilayah Gaza, disitulah kami bertemu. Saat itu, dia sebagai relawan tim medis. Dia yang menolong Ibu saya yang saat itu dalam kondisi kritis akibat terkena peluru jahannam tentara laknatullah itu. Tapi, apa daya, Allah lebih sayang pada Ibuku. Ibu pun berpulang ke rahmatullah. Setelah kejadian itu, dia memutuskan melamar dan menikahiku. Kami pun menikah tepat seminggu setelah kepergian Ibu.
Dua minggu setelah hari pernikahan kami, suamiku pun membawa saya bertolak ke Indonesia untuk pertama kalinya sambil memperkenalkanku pada keluarga suamiku. Kami pun memutuskan untuk menetap di Indonesia sambil menyembuhkanku dari trauma akibat serangan-serangan bengis kaum Israel itu. Tahun demi tahun pun kami lalui dengan sangat bahagia. Walau tanda-tanda kehadiran buah hati tak kunjung ada tapi itu tidak membuat keharmonisan antara kami berdua memudar. Tidak sama sekali. Suamiku begitu sabar menanti tanpa ada beban terlihat sedikitpun. Ia tak pernah lelah berdo’a disetiap sujud sholatnya. Aku pun banyak belajar darinya tentang arti kesabaran. Ia nampak begitu tulus menyayangiku, padahal fisikku sudah tak lagi sempurna seperti gadis lain. Tangan kiri ku sudah diamputasi akibat terkena peluru di Gaza, aku sangat mengaguminya Mbak. Aku sangat mencintainya. Begitu mencintainya. tak terasa, usia perkawinan kami memasuki usia yang ke-5. Seperti biasa, kami melakukan kebiasaan setiap di ultah perkawinan, kami selalu mengadakan syukuran dengan mengundang beberapa anak yatim untuk bersama-sama merayakan usia perkawinan kami sambil sama-sama berdoa untuk kebahagiaan rumahtangga kami termasuk segera diberi seorang anak. Alhamdulillah, 2 pekan setelahnya, saya pun mulai mengalami tanda-tanda kehamilan. Alhamdulillah, setelah periksakan diri ke dokter tanpa didampingi suami, karena memang niatku ingin memberi  tahu kabar ini sebagai kejutan, dan tanpa berhenti berucap syukur, akhirnya Allah pun mengijabah do’a kami terutama do’a suamiku. Saya hamil. Ya, bayi yang ada dalam kandunganku sudah berusia seminggu. Segera ku kabarkan hal ini pada suamiku.
Setelah tiba di rumah, saya pun bergegas memperlihatkan isi surat hasil lab dari rumah sakit tadi. Begitu suamiku membaca suratku, masya Allah, ia pun spontan sujud syukur sambil menitikkan air mata. ia begitu sangat bahagia. Hari-hari pun berlalu dengan indahnya. Suami pun tak pernah mengeluh meladeni segala permintaan akibat ngidamku Mbak. Hingga sampai disuatu pagi, suamiku berkata bahwa iya punya rencana untuk kembali ke Palestina karena saat itu Palestina sangat membutuhkan tenaga medis karena banyaknya korban yang berjatuhan sementara dokter dan perawat disana begitu minim. Saya pun nampak kaget, tapi niatnya untuk menolong saudara-saudara disana tak bisa kutahan. Saya tak boleh egois, mereka jauh lebih membutuhkan suamiku. Insya Allah, Allah menjaga suamiku disana. Maka kuputuskan untuk melepaskan suamiku untuk berangkat ke Gaza sana.
Sebulan pun terlewatkan sudah. Tak terasa usia kandunganku berusia3 bulan. Pagi itu saya ingin sekali menelpon suamiku, menanyakan kabar dirinya dan juga tak lupa, kabar saudara-saudaraku di Palestina. Namun, beberapa kali kuhubungi, hp suamiku tak kunjung aktif. Tidak biasanya ia seperti ini. Tapi saya tetap bersuudzon, mungkin saja saat ini iya tengah sibuk merawat pasien disana. Belum sampai 5 menit, ada panggilan masuk di hp ku,  dan ternyata panggilan itu datang dari Palestina. Ya. Tak lain adalah tentang suamiku. Innalillah… saya pun tak bisa menguasai diri apalagi ditengah kondisi kehamilanku yang tidak stabil, aku pun ambruk.
Tak lama kemudian saya pun sadar diri, ternyata teriakan innalillahku tadi membuat kaget beberapa tetangga rumah dan mereka pun membawa ku ke rumah sakit. Suamiku, ternyata Allah lagi-lagi mengambil orang yang sangat menyayangiku. Suamiku wafat tadi subuh, tepat saat ia menuju mesjid al aqsho. Tapi ditengah perjalanan, ia terkena serangan peluru dari udara Palestina. Dan akhirnya suamiku pun wafat bersama teman-temannya.
Saya sangat sedih skali, terlebih karena tak bisa melihat suamiku lagi. Kuputuskan ia dimakamkan disana karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk dibawa kesini dan juga biaya yang begitu mahal. Ternyata kesedihanku berdampak pada janinku. Saya pun mengalami keguguran. Saat itu adalah waktu yang membuatku begitu terpukul. Kesedihan nampak dalam. Hari-hari kulalui menjadi tidak semangat. Tapi Alhamdulillah, ibu mertua begitu baik padaku, bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya sekarang tanpa jasa beliau.
Begitulah kisahku Mbak. Terlalu panjang ya? Hehe.. tapi saya senang Mbak, karena saya telah mengantarkan suamiku menjadi seorang syahid, sejak kejadian itu, setiap sabtu saya selalu berkunjung ke mesjid ini untuk mengenang masa-masa suamiku dan masa kami bersama yang setiap pekan mengajar adik-adik TPA disini. Tuh, mereka sudah pada datang Mbak.
Masya Allah. Allahu akbar. Lagi. Bertemu dengan sosok wanita luar biasa. Ia telah membuka tabir dibalik tanyaku diperjalanan ini tentang arti dibalik kata cinta. Yaa Allah, terima kasih engkau telah mempertemukan hamba dengan hamba-Mu yang luar biasa ini. Mbak Hafshah, Ah, kau membuat mataku kembali mengembun dan hidungku kembali sembab. Selamat menjalani kehidupan penuh kemuliaan Mbak. Kelak, Mbak dan suami akan bertemu kembali di Jannah-Nya.  Aku pun berpisah dngannya dngan penuh haru. Diam-diam aku berbisik dalam hati, Mbak aku memberimu gelar Wanita Gaza Penuh Cinta.

Masyithah Utrujjah Dwi Natsir
26 April 2014

Cukupkah Sekedar Jadi Penonton?



Kau ingin Indonesia berubah,
Namun kau tak lakukan apa-apa
Kau hanya duduk terpaku di depan tv
Bersantai sambil mencibir

Setiap kebijakan pemerintah kau protesi seenaknya,
Tanpa menghadirkan upaya dan solusi

Setiap pendemo mahasiswa kau bilang tak ada gunanya,
Padahal itu ungkapan dari jeritan hatinya

Setiap para hakim yang memutus perkara,
Kau bilang, ganjaran tak sesuai perbuatan,
Padahal itu adalah usaha terbaiknya menggapai keadilan

Setiap berita yang disampaikan dengan lantang oleh wartawan,
Kau bilang ah, kok topiknya itu-itu saja?
Bukankah itu usaha menyuarakan kebenaran?

Setiap tim olahraga kalah dihelatan pertandingan,
Kau bilang, Huh Indonesia dari dulu sama saja,
Mengapa kau tak hargai setiap tetes keringatnya untuk Merah Putih?

Setiap ustadz yang memutuskan berpoligami,
Karismanya pun luluh seketika dimatamu
Bukankah itu lebih baik daripada berbuat buruk pada wanita?

Bukankah  kau adalah agen perubahan?
Bukankah kau kaum terpelajar?
Bukankah kau adalah pemuda?
Dimana semangatmu masih menggelora?
Dimana kreatif masih menghiasi dirimu dengan briliannya?
Pantaskah bersikap seperti itu?
Cukupkah sekedar jadi penonton?

Bukankah kita bisa ikut berbuat?
Berbenahlah, berbuatlah, bertindaklah, berucaplah,
Bukankah Allah tak mengubah nasib sebelum kita berusaha?

Jadilah penonton yang kritis
Lakukan yang terbaik disetiap langkahmu
Persembahkan apapun dari setiap jerih dan peluhmu
Berbuatlah untuk bangsamu,
Untuk tanah tumpah darahmu

Buatlah Indonesia bangga,
Hingga jasadmu kembali menyatu di tanah tercinta ini,
Dan mereka pun berucap,
Kau lebih dari sekedar penonton !!!



__ Mencari Arti dibalik Kata Cinta __



Matahari bersinar sangat terik, namun itu tak menghentikan langkahku untuk terus menelusuri jalan demi jalan. Ini bukan blusukan lho, seperti yang sering dilakukan oleh beberapa pejabat negeri yang ingin mengambil hati rakyat.  ^_^ 

Hanya untuk mencari arti cinta. Ya. Aku bingung apa itu cinta. Zat yang satu ini sering diperdebatkan, sesuatu yang dimana hampir setiap hari dibahas oleh setiap orang. Tak peduli dari kalangan mana mereka berasal. 

Matahari. Yup. Aku yakin matahari punya definisi sendiri tentang apa itu cinta. Bayangkan saja, ia tak kenal lelah menyinari kita disetiap harinya, walaupun tak jarang pula ia galau hingga berlindung dibalik awan. Yup. Ia pasti melakukannya dengan penuh cinta. Duhai matahari, teruslah bersinar, sinari aku dengan rasa cinta, dan jangan lupa sampaikan salam hangatku pada beberapa kawanmu, Ya, tak lain dialah bulan, bintang dan pelangi. Kalian semua harus tahu, aku adalah pengagum kalian. Sungguh, maha Indah penciptamu.

Oke. Aku sudah menemukannya. Iya. Aku sudah tau jawabannya. Cinta itu adalah matahari. Yang senantiasa menyinari dunia dengan penuh kehangatan cinta.
Tapi aku masih tak puas, rasa penasaranku masih terus membumbung tinggi bak awan yang berkejaran di langit biru sana. Akan kuteruskan perjalananku.

Diseperempat perjalananku, aku bertemu dengan seorang Ibu penjual jamu gendong. Tanpa berpikir panjang, kupanggillah Ibu itu, maka terjadilah percakapan antara kami berdua. Ibu, aku mau beli jamu Ibu dong, yang buat awet muda, hehe. Aduh, narsisku kumat. Ibu itu pun menurunkan jamu dari gendongannya. Ya. Nampak sekali kelelahan begitu terpancar lewat peluh keringatnya, juga lewat pancaran matanya yang mulai meredup. Tanpa menunggu lama, jamu awet muda pesananku pun sudah siap ku sruput. Hmm. Aroma jamunya begitu menggugah. Ia meraciknya dengan penuh ikhlas, tak nampak sama skali ekspresi dongkol ataupun kesal karena kecapekan. Ia masih bisa tersenyum manis menyodorkan gelas jamu sambil menatapku dengan penuh keibuan. Ini Nduk, ujarnya. Aku pun menyambutnya dengan penuh hangat pula. Menjual jamu itu tidaklah mudah. Bayangkan saja, di usianya yang tak lagi muda itu, ia begitu bersemangat menjajakan jamunya. Padahal ada beberapa botol kaca lengkap dengan termos menggelayut diatas pundaknya. Belum lagi beberapa gelas dan seember air di tangan kanannya. Ah, Ibu membuatku menjadi malu. Aku saja, yang masih belia ini, memakai ransel berisi buku dan laptop saja, sering mengeluh. Hmm, aku makin penasaran, apa yang membuat ibu menjadi begitu kuat, lantas kutanyalah Ibu itu. Ibu sudah berapa lama menjual jamu? Maaf Bu, apa ibu tidak pernah merasa letih, dongkol ataupun bosan dengan rutinitas Ibu yang satu ini? Kenapa Ibu tidak coba keliling menjajakan jamu dengan menggunakan sepeda saja? Apakah Ibu pernah mengeluh? Padahal, keberadaan Jamu sekarang sudah mulai sedikit tergeser oleh junk drink yang sekarang jauh lebih diminati banyak kalangan? Apa Ibu tidak khawatir dengan keadaan ini?

Pertanyaanku pun berakhir. Maaf Bu, sudah menjejalimu dengan serentetan pertanyaan anehku. Kupikir, Ibu ini tidak mau menjawab sambil mengomeliku. Tapi ternyata dugaanku sama sekali meleset. Ia pun menimpali semua pertanyaanku dengan senyuman khasnya sejak awal kita bertatapan, Aduh Bu, senyumanmu begitu tulus. Membuat jamu yang kuminum ini hilang dari pahitnya. Ibu itu pun menjawab, Nduk, Ibu tidak pernah merasa bosan apalagi mengeluh dengan pekerjaan Ibu ini. Ibu merasa tidak pernah sedikit pun merasa terbebani. Ibu senang bisa ikut membantu warga disini untuk tetap menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi jamu buatan Ibu. Ibu senang karena dengan pekerjaan ini Ibu bisa membiayai sedikit demi sedikit biaya sekolah anak-anak Ibu di rumah. Ibu senang karena Ibu bisa melestarikan minuman khas tradisional kampung Ibu di Surabaya sana. Kenapa Ibu lebih senang berjualan menelusuri kampung dengan berjalan kaki ketimbang menggunakan sepeda atau motor sekalipun? Karena Ibu cinta dengan pekerjaan Ibu. Ibu jauh lebih dapat nikmatnya bekerja dengan berjalan kaki. Capek sih jelas, tapi itu semua tidak menjadikan alasan Ibu untuk mengeluh apalagi mendongkol, karena Ibu menjalaninya dengan hati. Ibu mencintai pekerjaan ini Nduk. Do’akan Ibu, supaya bisa trus sehat hingga terus menjalani pekerjaan Ibu ini.

Masya Allah. Jawaban-jawaban Ibu tadi membuatku sejenak diam tak bergeming. Tak terasa ada yang hangat dipelupuk mata. Ah, Ibu penjual jamu. Bagi kebanyakan orang, mungkin dirimu bukan siapa-siapa, tapi bagiku kau adalah pahlawan cinta. Kau tahu arti cinta, kau tahu arti ikhlas, kau tahu arti ketulusan. Keringat yang bercucuran kau jadikan selimut membalut kelelahan. Aku kagum padamu, Bu. Ijinkan aku, menebarkan semangat cinta dan keikhlasan yang kau miliki ini pada kawan-kawanku. Jangan lupakan pertemuan kita yang singkat namun penuh hikmah ini. Aku berjanji, akan terus mendo’akanmu agar terus sehat, agar kekuatan terus berada dalam genggaman jiwamu. Kataku dalam hati seraya memeluk Ibu dengan penuh kasih sayang. Kami pun berpisah. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan, kembali mencari arti dibalik kata cinta di sudut lain, entah dengan siapa aku bakal bertemu selanjutnya. Tapi tak lupa dengan melambaikan tangan kearah Ibu tadi hingga dirinya perlahan menjauh dari penglihatan.

Masyithah, 25 April 2014,
Dibawah Plafon, diatas karpet, di depan layar laptop.
Pukul 23.00 Wita.