Matahari bersinar sangat terik,
namun itu tak menghentikan langkahku untuk terus menelusuri jalan demi jalan.
Ini bukan blusukan lho, seperti yang sering dilakukan oleh beberapa pejabat
negeri yang ingin mengambil hati rakyat. ^_^
Hanya untuk mencari arti cinta.
Ya. Aku bingung apa itu cinta. Zat yang satu ini sering diperdebatkan, sesuatu
yang dimana hampir setiap hari dibahas oleh setiap orang. Tak peduli dari
kalangan mana mereka berasal.
Matahari. Yup. Aku yakin matahari
punya definisi sendiri tentang apa itu cinta. Bayangkan saja, ia tak kenal
lelah menyinari kita disetiap harinya, walaupun tak jarang pula ia galau hingga
berlindung dibalik awan. Yup. Ia pasti melakukannya dengan penuh cinta. Duhai
matahari, teruslah bersinar, sinari aku dengan rasa cinta, dan jangan lupa
sampaikan salam hangatku pada beberapa kawanmu, Ya, tak lain dialah bulan,
bintang dan pelangi. Kalian semua harus tahu, aku adalah pengagum kalian.
Sungguh, maha Indah penciptamu.
Oke. Aku sudah menemukannya. Iya.
Aku sudah tau jawabannya. Cinta itu adalah matahari. Yang senantiasa menyinari
dunia dengan penuh kehangatan cinta.
Tapi aku masih tak puas, rasa
penasaranku masih terus membumbung tinggi bak awan yang berkejaran di langit
biru sana. Akan kuteruskan perjalananku.
Diseperempat perjalananku, aku
bertemu dengan seorang Ibu penjual jamu gendong. Tanpa berpikir panjang,
kupanggillah Ibu itu, maka terjadilah percakapan antara kami berdua. Ibu, aku
mau beli jamu Ibu dong, yang buat awet muda, hehe. Aduh, narsisku kumat. Ibu
itu pun menurunkan jamu dari gendongannya. Ya. Nampak sekali kelelahan begitu
terpancar lewat peluh keringatnya, juga lewat pancaran matanya yang mulai
meredup. Tanpa menunggu lama, jamu awet muda pesananku pun sudah siap ku sruput.
Hmm. Aroma jamunya begitu menggugah. Ia meraciknya dengan penuh ikhlas, tak nampak
sama skali ekspresi dongkol ataupun kesal karena kecapekan. Ia masih bisa
tersenyum manis menyodorkan gelas jamu sambil menatapku dengan penuh keibuan.
Ini Nduk, ujarnya. Aku pun menyambutnya dengan penuh hangat pula. Menjual jamu
itu tidaklah mudah. Bayangkan saja, di usianya yang tak lagi muda itu, ia
begitu bersemangat menjajakan jamunya. Padahal ada beberapa botol kaca lengkap
dengan termos menggelayut diatas pundaknya. Belum lagi beberapa gelas dan
seember air di tangan kanannya. Ah, Ibu membuatku menjadi malu. Aku saja, yang
masih belia ini, memakai ransel berisi buku dan laptop saja, sering mengeluh.
Hmm, aku makin penasaran, apa yang membuat ibu menjadi begitu kuat, lantas
kutanyalah Ibu itu. Ibu sudah berapa lama menjual jamu? Maaf Bu, apa ibu tidak
pernah merasa letih, dongkol ataupun bosan dengan rutinitas Ibu yang satu ini?
Kenapa Ibu tidak coba keliling menjajakan jamu dengan menggunakan sepeda saja?
Apakah Ibu pernah mengeluh? Padahal, keberadaan Jamu sekarang sudah mulai
sedikit tergeser oleh junk drink yang sekarang jauh lebih diminati banyak
kalangan? Apa Ibu tidak khawatir dengan keadaan ini?
Pertanyaanku pun berakhir. Maaf
Bu, sudah menjejalimu dengan serentetan pertanyaan anehku. Kupikir, Ibu ini
tidak mau menjawab sambil mengomeliku. Tapi ternyata dugaanku sama sekali
meleset. Ia pun menimpali semua pertanyaanku dengan senyuman khasnya sejak awal
kita bertatapan, Aduh Bu, senyumanmu begitu tulus. Membuat jamu yang kuminum
ini hilang dari pahitnya. Ibu itu pun menjawab, Nduk, Ibu tidak pernah merasa
bosan apalagi mengeluh dengan pekerjaan Ibu ini. Ibu merasa tidak pernah
sedikit pun merasa terbebani. Ibu senang bisa ikut membantu warga disini untuk
tetap menjaga kesehatan dengan mengkonsumsi jamu buatan Ibu. Ibu senang karena
dengan pekerjaan ini Ibu bisa membiayai sedikit demi sedikit biaya sekolah
anak-anak Ibu di rumah. Ibu senang karena Ibu bisa melestarikan minuman khas
tradisional kampung Ibu di Surabaya sana. Kenapa Ibu lebih senang berjualan
menelusuri kampung dengan berjalan kaki ketimbang menggunakan sepeda atau motor
sekalipun? Karena Ibu cinta dengan pekerjaan Ibu. Ibu jauh lebih dapat
nikmatnya bekerja dengan berjalan kaki. Capek sih jelas, tapi itu semua tidak
menjadikan alasan Ibu untuk mengeluh apalagi mendongkol, karena Ibu
menjalaninya dengan hati. Ibu mencintai pekerjaan ini Nduk. Do’akan Ibu, supaya
bisa trus sehat hingga terus menjalani pekerjaan Ibu ini.
Masya Allah. Jawaban-jawaban Ibu
tadi membuatku sejenak diam tak bergeming. Tak terasa ada yang hangat dipelupuk
mata. Ah, Ibu penjual jamu. Bagi kebanyakan orang, mungkin dirimu bukan
siapa-siapa, tapi bagiku kau adalah pahlawan cinta. Kau tahu arti cinta, kau
tahu arti ikhlas, kau tahu arti ketulusan. Keringat yang bercucuran kau jadikan
selimut membalut kelelahan. Aku kagum padamu, Bu. Ijinkan aku, menebarkan
semangat cinta dan keikhlasan yang kau miliki ini pada kawan-kawanku. Jangan
lupakan pertemuan kita yang singkat namun penuh hikmah ini. Aku berjanji, akan
terus mendo’akanmu agar terus sehat, agar kekuatan terus berada dalam genggaman
jiwamu. Kataku dalam hati seraya memeluk Ibu dengan penuh kasih sayang. Kami
pun berpisah. Aku pun kembali melanjutkan perjalanan, kembali mencari arti
dibalik kata cinta di sudut lain, entah dengan siapa aku bakal bertemu
selanjutnya. Tapi tak lupa dengan melambaikan tangan kearah Ibu tadi hingga dirinya
perlahan menjauh dari penglihatan.
Masyithah, 25 April 2014,
Dibawah Plafon, diatas karpet, di depan layar laptop.
Pukul 23.00 Wita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar